Tampilkan postingan dengan label marga batak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marga batak. Tampilkan semua postingan


PURBA: Marpinompar di Tano Toba, Tanoh Pakpak, Tanoh Simalungun dohot Taneh Karo

  • Bermula dari Tarombo Toga Simamora di Tano Toba

I. Toga Simamora

1.1. Toga Purba

1.1.1. Pantomhobol

1.1.1.1. Tuan Didolok

1.1.1.2. Pargodung

1.1.1.3. Balige Raja

1.1.2. Parhorbo

1.1.2.1. Parhoda-hoda

1.1.2.2. Marsaha Omas

1.1.2.2.1. Tuan Siborna

1.1.2.2.2. Nahoda Raja

1.1.2.2.2.1. Raja Omo (Purba Tanjung)

1.1.2.2.3. Namora Soaloon

1.1.2.3. Tuan Manorsa

1.1.2.3.1. Ompung Tarain

1.1.2.3.2. Sorta Malela

1.1.2.3.3. Soim Bangun

1.1.2.3.4. Sombu Raja

1.1.2.3.5. Ompung Hinokop

1.1.3. Sigulangbatu

1.1.3.1. Raja Dilangit

1.1.3.1.1. Juara Parultop

1.1.3.1.2. Datu Parulas

1.1.3.2. Raja Ursa (Girsang)

1.2. Toga Manalu (Manalu)

1.3. Toga Debata Raja (Simamora)

1.4. Tuan Sumerham (Rambe)

Sesuai tarombo, Juaro Parultop dan Datu Parulas merupakan anak kembar (silinduat), makanya kadang Purba yang dari Simalungun yang punya tarombo menuliskannya dengan Datu Parulas sebagai Tuan Pangultop-ultop. Keduanya merupakan orang sakti (datu bolon), mungkin ceritanya agak panjang, tapi dari tarombo yang ada Juaro Parultop memperanakkan : Purba Tambak, Sidasuha, Tarigan (di karo), Purba Batu. Datu Parulas memperanakkan : Siboro, Purba yang ada di Simalungun.
  • Pergi ke Tanoh Dairi
    • Purba Pakpak yang merantau ke Tanoh Simalungun
Purba Pakpak ada si Lima Bapak, yakni : Hinalang, Nagori, Bangun Purba, Purba Tua dan Nagasaribu dan Purba Parhorbo keturunan Manorsa ada yang tinggal di Simalungun. Mereka adalah Purba Tambun Saribu (TAMSAR) dan Purba Tondang. Kuburan Tuan Manorsa juga tetap di Haranggaol , sedang tugunya ada di Simamora Nabolak. Kebanyakan Purba yang di Simalungun hijrah dari Pakpak yakni keturunan Purba Sigulang Batu, dan Tarigan juga berasal dari Purba Sigulangbatu.
o Marga Siboro menjadi Cibero
Marga ini adalah keturunan dari Datu Parulas yakni Siboro. Morga Siboro adalah submarga Purba yang berkembang di Tanoh Simalungun. Akan tetapi di kemudian hari, keturunan marga ini merantau ke Tanoh Pakpak dan berubah menjadi Cibero.
  • Menjadi Raja di Tanoh Simalungun
    • Asal Mula Morga Sidasuha

Menurut sejarah Kerajaan Dolok Silau dari kitab Pustaha Bandar Hanopan di Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun bahwa Purba Dasuha adalah marga yang muncul kemudian dari Kerajaan Silau di Simalungun sekitar tahun 1450. Menurut pustaka lama itu, adapun mulanya adalah dari ucapan “si” artinya “orang” dan “Da” artinya “sang”, serta “suha; dari kata “suha-suha” artinya “sisa-sisa minuman tuak/aren”. Jadi Sidasuha artinya: “orang yang dijuluki sebagai peminum suha-suha (sisa-sisa tuak). Munculnya julukan ini pertama kali di Silau Buttu (suatu kampung di Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun sekarang). Kisahnya berawal dari pertengkaran dari dua orang putera raja Silau yang bersaudara kandung. Menurut kisah, Raja Silau bermarga Purba Tambak mempunyai dua orang putera, putera tertua seorang petualang yang pekerjaannya sehari-hari “mardagang” (mengembara) dan berjudi. Menurut adat kerajaan, putera tertua inilah yang kelak menggantikan ayahnya menjadi raja. Anak yang bungsu seorang petani yang baik, suka berladang dan pendiam. Pekerjaannya sehari-hari hanya mengurus tanamannya dan pekerjaan sambilannya sehabis berkebun adalah “maragad” (mengambil tuak dari pohon enau).

Pada suatu hari anak yang bungsu marah kepada abangnya, karena telah menghabiskan tuak hasil sadapannya. Dia protes kepada abangnya, tetapi abangnya tidak mempedulikannya, malah balik memukul adiknya. Karena emosi, abangnya mengatakan dalam bahasa Simalungun, “ai suha-suha ni bagod in do talup inumonmu, tandani ho silojaloja irumah bolon on!” (Artinya: “Memang “suha-suha bagod” (sisa tuak) itu sangat cocok untuk minumanmu, pantas buatmu selaku orang suruhan di istana ini”). Mendengar ucapan yang merendahkan itu, anak bungsu merasa terhina dan balik memukul abangnya, akhirnya mereka berkelahi dengan adu pencak (dihar), dan karena abangnya lebih kuat, adiknya pergi dari Silau Buttu menuju ke daerah Tigarunggu (Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun sekarang). Tetapi abangnya mengejar dia terus bersama pasukan kerajaan berniat hendak membunuhnya. Maka terpaksalah adiknya berlindung ke tempat adik perempuannya (bou Tambak) di Malasori yang disembunyikan di bawah “palakka pangulgasan” (tempat merendam benang tenunan), dan sang bou dengan tenang duduk di atasnya melanjutkan pekerjaannya bertenun.

Akhirnya tibalah rombongan abangnya di Malasori dan menanyakan perihal adiknya yang dibencinya itu. Oleh Bou Tambak ditunjukkan arah yang lain, sehingga selamatlah abangnya yang disembunyikan di bawah palakka itu sementara Bou duduk di atasnya menenun. Sebelum abangnya pergi, disumpahkannya kepada adiknya (Bou Tambak) bahwa ia sampai keturunanya akan mengingat jasa adiknya itu dan akan menyayangi “botou” (saudara perempuan) dan “boruni” (anak perempuan/pihak yang memperisteri adik perempuannya). Demikianlah menurut kisah sehingga keturunan Purba Sidasuha sangat sayang kepada “boru” atau “botou”-nya.

Dengan sahabat-sahabat setianya yang menyertai pelariannya itu—pustaha panei bolon milik ayahnya Raja Silau juga turut dibawa lari—ia pun sampailah di daerah sekitar Tigarunggu dan membangun perkampungan di sana. Dinamailah kampung itu “HUTA SUHA BOLAG” mengingat riwayat pelariannya itu, marganya pun ia robah, sehingga bukan lagi PURBA TAMBAK, tetapi berubah menjadi PURBA SIDASUHA atau PURBA DASUHA. Dengan pertolongan sahabat-sahabatnya, ia pun mengangkat dirinya menjadi yang dipertuan di tempat itu, karena daerah itu masih dalam wilayah kekuasaan ayahnya Raja Silau. Di kemudian hari, ayahnya Raja Silau berperang dengan saudaranya Raja Silau Bolag, karena terdesak Raja Silau melarikan diri ke tempat anaknya Tuan Suha Bolag meminta perlindungan, tetapi karena pasukan Raja Silau Bolag lebih kuat, pertahanan Raja Silau berhasil dihancurkan di Suha Bolag, dan Raja Silau pun tewas bersama panglima-panglimanya Pisang Buil, Sibayak Parbosi dan Raja Hanopa. Sehabis perang, abangnya (putera mahkota raja Silau) ditawan di Suha Bolag, tetapi dapat meloloskan dirinya dari tutupan, ia melarikan diri bersama pasukannya ke daerah Bangun Purba sekarang ini dan mendirikan kerajaan bernama KERAJAAN RUBUN yang daerah kekuasaanya berwatas dengan Bah Karei (Sungai Ular)—Rih Sigom dan Sibaganding. Keturunanya kelak mendirikan KERAJAAN DOLOG SILAU dengan memakai marga PURBA TAMBAK LOMBANG. Selepas perang saudara, Tuan Suha Bolag pergi ke Kerajaan Siantar dan kawin dengan tuan puteri raja Siantar (Bou Siattar) morga Damanik yang turun-temurun menjadi permaisuri di Kerajaan Panei. Dengan bantuan mertuanya Raja Siantar marga Damanik, Tuan Suha Bolag diangkat menjadi raja di daerah bekas kekuasaan Raja Onggou Sipoldas morga Saragih. Kisahnya, Raja Onggou Sipoldas selaku salah satu dari RAJA MAROPPAT (Siantar, Onggou Sipoldas, Tanoh Djawa dan Silau) tidak percaya dengan kesaktian pusaka Kerajaan Silau yakni PUSTAHA PANEI BOLON (kitab kuno dari kulit kayu yang tulisannya hanya dapat dibaca di tempat gelap di mana tulisan di kitab itu memancarkan sinar seperti seekor naga, sehingga dapat diramalkan nujuman mengenai hal-hal yang akan terjadi). Raja Onggou Sipoldas takabur dengan ucapannya sendiri, sehingga dalam pertaruhannya dengan Raja Siantar, ia kalah dan terpaksa memberikan kerajaannya kepada Tuan Suha Bolag, tetapi Tuan Suha Bolag tidak mau dinobatkan di tahta Raja Onggou Sipoldas, melainkan di atas Pustaha Panei Bolon, demikianlah menurut kisah, kerajaannya dinamakan KERAJAAN PANEI. Ibukotanya ditentukan di daerah PAMATANG PANEI (sekitar 8 kilometer dari Pematang Siantar). Daerah kekusaanya pada awalnya hanya kecil saja, tetapi dapat diperluasnya, sehingga berbatas di sebelah selatan mulai dari tepi pantai Tigaras sampai ke sebelah utara di pantai selat Malaka yaitu Indrapura sekarang ini; di sebelah barat dengan daerah Suha Bolag (Kecamatan Purba sekarang) sampai ke perbatasan dengan daerah Silampuyang (Kerajaan Siantar). Raja Panei kedua dinamakan Parhuda Sitajur atau Hantu Panei yang terkenal sakti mandraguna (ia dapat berperang dengan berkuda tanpa dapat dilihat musuh). Pada zamannya daerah Kerajaan Panei sangat disegani di Sumatera Timur, dan pengaruhnya sampai ke Asahan (Buttu Panei). Keturunanya banyak yang merantau ke daerah sekitarnya, ada yang sampai ke Sialtong Serdang dan diangkat menjadi yang dipertuan. Daerah itu sebelum berdiri kesultanan Serdang adalah daerah kekuasaan Kerajaan Silau di Simalungun yang daerahnya mencakup Bangun Purba sampai ke Lubuk Pakam.

Pada tahun 1515 keturunan raja Panei yang mengontrol daerah Purba yaitu Tuan Simalobong Purba Dasuha dikalahkan oleh seorang pengembara dari Tungtung Batu (Pakpak Dairi) dalam adu sumpah (marbija). Tuan Simalobong bersama pengiringnya meninggalkan istana Pamatang Purba pergi ke Purba Saribu dan sebagian ke Haranggaol (Kecamatan Haranggaol Horisan sekarang). Si pengembara yang bernama Raendan “marbulawan” dengan Tuan Simalobong dan mengakui Tuan Simalobong sebagai Raja Nagodang Purba. Ia juga memakai marga yang sama dengan Tuan Simalobong tetapi dengan mengingat asalnya dari Pakpak maka marganya disebutnya Purba Pakpak. Sementara Raja Panei sendiri selama enam generasi masih tetap tinggal di Pamatang Panei, tetapi pada generasi ketujuh terjadi pertikaian di Pamatang Panei yang mengakibatkan perginya salah seorang putera raja Panei bersama pengiringnya dan Puang Bolon (permaisuri raja) ke daerah kekuasaan Kerajaan Panei yaitu daerah Baja Linggei (Sipispis) sekarang kira-kira tahun 1550. Saudara tuan Baja Linggei yang lain ditugaskan oleh Raja Panei pindah ke Raya dan menjabat sebagai GURU RAYA bersamaan dengan dijemputnya tuan puteri Panei yang menjadi permaisuri (puang bolon) di Raya sekitar tahun 1600 (abad XVII). Keturunan raja Panei yang lain yang adalah tuan Sinaman bermarga Purba Sidadolog dan adiknya Tuan Rajaihuta bermarga Purba Sidagambir. Dengan demikian keturunan langsung dari garis marga induk Purba Tambak adalah: Purba Tambak (Silau Buttu, Bawang, Tualang dan Lombang), Purba Sigumonrong (tuan Lokkung dan Marubun Lokkung di Kerajaan Dolok Silau), Purba Sidasuha (raja Panei, tuan Simalobong, tuan Baja Linggei dan Guru Raya), Purba Sidadolog (tuan Sinaman) dan Purba Sidagambir (tuan Rajaihuta dan Dolog Huluan) di Kecamatan Raya sekarang. Pada masa pemerintahan Raja Panei Tuan Djintama (sekitar tahun 1780) didudukkan marga Purba Girsang menjadi partuanan di Dolog Batu Nanggar (yang sebelumnya bernama Naga Litang). Tuan Dolog Batu Nanggar yang terakhir adalah Tuan Badja Purba Girsang yang kawin dengan boru Damanik puteri raja Siantar. Pusat pemerintahannya pada zaman Belanda adalah di Sinaksak. Sekarang Dolog Batu Nanggar telah dimekarkan menjadi dua yaitu: Kecamatan Dolog Batu Nanggar di Sinaksak dan Kecamatan Tapian Dolog di Purbasari, Kabupaten Simalungun.
    • Raja Kerajaan Simalungun

Raja-Raja Kerajaan Purba :Tuan Pangultop Ultop (Datu Parulas) (1624-1648) Tuan Ranjiman (1648-1669) Tuan Nanggaraja (1670-1692) Tuan Batiran (1692-1717) Tuan Bakkaraja (1718-1738) Tuan Baringin (1738-1769) Tuan Bona Batu (1769-1780) Tuan Raja Ulan (1781-1769) Tuan Atian (1800-1825) Tuan Horma Bulan (1826-1856) Tuan Raondop (1856-1886) Tuan Rahalim (1886-1921) Tuan Karel Tanjung (1921-1931) Tuan Mogang (1933-1947)
Raja terakhir yang memimpin adalah Raja Tuan Mogang, yang konon jasadnya hingga kini belum ditemukan. Disinyalir ia dibunuh ketika revolusi sosial berlangsung di Simalungun pada tahun 1947.
Konon, dulu Desa Purba dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan kerajaan tertua di Simalungun, yaitu Kerajaan Purba yang hingga akhir kekuasaanya, terhitung ada 14 raja yang pernah memegang tampuk kekuasaannya. Jadi jelaslah bahwa kerajaan ini bukanlah satu-satunya kerajaan yang pernah ada di wilayah Simalungun.
Sejarah mencatat, ada lima kerajaan besar yang masing-masing menguasai wilayahnya sendiri-sendiri yang di antaranya tersebar di beberapa wilayah: Siantar, Panambean, Tanah Jawa, Pematang Raya dan Purba. Wilayah ini kemudian didiami oleh marga-marga tertentu pula, seperti Saragih, Manik, Sinaga dan Purba sendiri.
Rumah Bolon Pematang Purba sendiri merupakan kediaman Raja Purba yang pertama kali diduduki Tuan Pangultop-ultop (1624-1648), yang kemudian diteruskan secara turun-temurun dengan sebuah tradisi budaya setempat. Raja terakhir yang memimpin adalah Raja Tuan Mogang, yang konon jasadnya hingga kini belum ditemukan. Disinyalir ia dibunuh ketika revolusi sosial berlangsung di Simalungun pada tahun 1947.

Ada semacam Tradisi Pengalihan Kekuasaan yang wajib dilakukan. Ketika raja hendak mewariskan kekuasaannya, diwajibkan untuk menyembelih seekor kerbau, yang lalu tanduknya disimpan agar kelak menjadi bukti untuk raja yang akan berkuasa kemudian. Setidaknya bukti sejarah itu masih dapat terlihat di mana ada 14 tanduk kerbau yang tergantung di dinding ruangan Rumah Bolon.
Lalu, apa dasar pengalihan kekuasaan itu? Seperti lazimnya dalam tradisi kerajaan yang meneruskan kekuasaan pada anak sulung, maka prinsip itu tidaklah mutlak dalam tradisi Kerajaan Purba. “Bukan harus anak sulung, tetapi siapa keturunan yang bagi raja memiliki talenta untuk menjadi pemimpin, maka ialah yang diangkat sebagai penerus kerajaan.
Sebenarnya, raja yang mula-mula berkuasa di Kerajaan Purba bukanlah Tuan Pangultop-ultop, melainkan Raja Purba Dasuha. Tuan Pangultop-ultop sendiri pada awalnya hanyalah pendatang yang datang dari wilayah Dolok Sanggul yang konon disinyalir berdekatan dengan wilayah Pakpak Bharat sekarang.
Lantas, mengapa ia kemudian menjadi raja? Ini masih berdasarkan penuturan Wanson Purba, yang juga merupakan pegawai dinas pariwisata Kabupaten Simalungun yang dihunjuk untuk mengawasi bangunan tua itu. Ia menjelaskan, kedatangan Tuan Pangultop-ultop ke wilayah Purba awalnya dikarenakan kegemarannya menangkap burung yang kemudian mengantarkannya ke kawasan Purba.
Sebenarnya jika ditelaah, Pangultop-ultop dengan demikian sudah mempraktekkan politik kekuasaan.

Konon, suatu ketika di wilayah hutan belantara, Purba, ia berhasil menangkap seekor burung Nanggordaha yang kemudian dari tembolok burung itu (terdapat biji padi dan jagung), ia mendapatkan makanannya sendiri. Ketika ia melihat bahwa Purba adalah negeri yang subur, maka ia pun memohon kepada Raja Purba Dasuha untuk diberikan sebidang tanah. Tanah itu kelak ia tanami dengan biji padi dan jagung yang ia dapat dari tembolok burung itu.
Ini jugalah yang menghantarkan Pangultop-ultop kepada kejayaan. Hasil panen yang melimpah dari sebidang tanah atas kebaikan raja itu, ia simpan di sebuah lumbung besar.
Suatu waktu muncullah masa paceklik yang mengakibatkan penduduk kewalahan mencari makanan. Mengetahui Pangultop-ultop memiliki banyak menyimpan padi dan jagung di lumbungnya, mereka pun lalu memintanya agar memberikan padi dan jagung yang selama itu ia kumpulkan.
Hanya saja, ia tak mau memberi jika mereka hanya memanggilnya dengan sebutan “oppung” (kakek atau orang yang dihormati), melainkan panggilan raja. “Jangan panggil aku oppung jika ingin mendapatkan padi dan jagung dari saya, tapi panggillah saya raja,” katanya.
Mereka pun memanggilnya demikian, yang lantas diketahui oleh Purba Dasuha. Merasa pengakuan terhadap dirinya terancam tidak diakui lagi, maka Purba Dasuha pun mengadakan pertemuan deng an Pangultop-ultop. “Jika kamu memang raja, maka buktikanlah,” katanya,
Hal ini kemudian dituruti Pangultop-ultop dengan mematuhi peraturan yang ditetapkan Purba Dasuha. “Marbijah” (disumpahi) adalah prosesi yang menjadi langkah pembuktian itu. Segenggam tanah, air dan “appang-appang” (kulit kerbau) adalah medianya. Maka, Pangultop-ultop kembali ke tanah asalnya untuk mendapatkan ketiganya.
Segenggam tanah lalu ditabur, dilapisi appang-appang dan di sampingnya ditaruh air yang tertuang dalam tatabu (sejenis tempayan air yang terbuat dari kulit labu). Disaksikan oleh rakyat, lalu Pangultop-ultop bersumpah di hadapan Purba Dasuha dan para ulubalang, katanya, “jika tanah dan air yang aku duduki ini bukanlah milikku, maka sekarang juga aku matilah.” Pangultop-ultop pun kemudian meminun air itu.
Waktulah yang kemudian menjawab sumpah itu. Meski sudah melewati hari, minggu, bulan hingga tahun, namun Pangultop-ultop tidak mati—seperti lazimnya sebuah sumpah yang mengandung kebohongan maka maut adalah imbalannya. Dan waktu jugalah yang menentukan peralihan kekuasaan itu. “Kuakui, sekarang kamulah raja yang pantas memimpin Kerajaan Purba, sebab sumpahmu tak berbala,” kata Purba Dasuha kemudian.
Sejak saat itu Pangultop-ultop resmi diangkat menjadi raja, tepatnya pada 1624, yang lalu memimpin hingga 1648. Sedang raja terdahulu—Purba Dasuha—masih dianggap sebagai raja, hanya saja ia tidak lagi memerintah.

  • Merantau ke Taneh Karo
    • Menjadi Merga Tarigan

Merga Tarigan adalah keturunan dari Marga Purba Sigulangbatu. Marga ini berkembang sangat pesat di Tanah Karo. Biasanya anak cucu Marga Purba yang merantau ke Tanah Karo, memakai Merga Tarigan. Sehingga banyak submarga dari Tarigan yang mirip dengan submarga Purba. Contohnya: Tarigan Gersang (Purba Girsang), Tarigan Silangit (Purba Silangit), Tarigan Tua (Purba Tua), dll.

    • Purba Si Enam yang Terbuang menjadi Sembuyak Merga Karokaro

Pada masa itu, di daerah Simalungun yang berbatasan dengan Tanah Karo terdapat sebuah kerajaan dengan rajanya bermarga Purba. Semenjak putra bungsunya lahir, Raja ini sering mengalami sakit-sakitan, banyak dukun yang sudah mengobatinya tetapi penyakit raja ini tak juga kunjung sembuh. Akhirnya didatangkanlah tujuh orang dukun terkenal sangat sakti berasal dari negeri Pakpak yang bergelar Guru Pakpak Pitu Sedalanen untuk mengobatinya.

Dengan menggunakan kesaktian mereka para guru Pakpak ini kemudian melakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa putra bungsu raja itulah sumber penyakit dan malapetaka selama ini. Untuk menghindarkan malapetaka itu, maka putra bungsu harus dibuang.

Untuk itu, mereka lalu pergi membawa putra bungsu Raja Purba yang sudah beranjak remaja jauh ke tengah hutan belantara. Di dalamnya, mereka kemudian membuat gubuk kecil untuk tempat tinggal putra raja itu. Setelah gubuk selesai didirikan, Para guru Pakpak lantas meninggalkan putra raja itu sendirian. Tetapi ketika mereka akan pergi, para guru Pakpak ini lebih dahulu memberikan panah, pedang, dan pisau kepada putra Raja Purba itu.

Setelah itu mereka menancapkan tongkat-tongkat sakti mereka di tujuh tempat di sekitar gubuk. Dari ketujuh tempat itu muncullah tujuh mata air bening.

Dengan kesaktian mereka, Guru Pakpak Pitu Sedalanen menumbuhkan pula rumpun bambu berduri mengelilingi gubuk itu. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal dengan nama Buluh Duri.

Setelah beberapa tahun putra Raja Purba tinggal di tempat Pembuangannya, di tengah hutan belantara, tumbuhlah dia menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah. Pada suatu hari, dia pergi berburu, dalam perburuan dia melihat seekor burung yang bulunya sangat cantik berwarna-warni.

Iapun mengejar burung itu untuk menangkapnya, tapi burung itu terus terbang, ke mana saja burung itu terbang terus dikejarnya. Ketika sedang mengejar burung itu, ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik.

Gadis itu sedang duduk dekat sebuah mata air sambil mengeringkan rambutnya yang terurai panjang. Si pemuda sangat terkejut dan heran melihat gadis cantik itu berada sendirian di tengah hutan. Di samping itu, dia merasa gembira pula karena sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah bertemu dengan manusia lain. Dengan hati berdebar-debar, dihampirinya gadis cantik itu.

Sambil tersenyum gadis itu menanyakan apa maksud kedatangannya ke tempat itu. Mendengar pertanyaan gadis cantik itu si pemuda kemudian menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu hendak menangkap seekor burung. Selanjutnya, gadis itu menanyakan banyak hal mengenai dirinya. Semua pertanyaan gadis itu dijawab oleh si pemuda. Dengan demikian tahulah si gadis bahwa si pemuda berasal dari daerah Simalungun, dan putra raja bermarga Purba.

Setelah lama bercakap-cakap berduaan, akhirnya si gadis mengajak si pemuda pergi bersama-sama ke tempat tinggalnya. Si pemuda menerima ajakannya itu dan mereka lalu pergi menuju tempat tinggal si gadis. Ternyata tempat tinggalnya di dalam sebuah gua besar. Letaknya tidak begitu jauh dari mata air tempat gadis itu ditemukan si pemuda.

Beberapa saat setelah mereka memasuki gua tempat tinggal si gadis, tiba-tiba si pemuda terkejut dan hendak melarikan diri sebab ia melihat seekor ular yang sangat besar di hadapannya. Gadis itu lalu menahan si pemuda supaya tidak melarikan diri. Sesaat kemudian tampak pula olehnya burung yang dikejar-kejarnya tadi sedang bertengger di dekat ular yang besar itu.

Si pemuda terkejut kembali ketika dia mendengar ular besar itu berkata-kata mempersilakan masuk, gadis itu lalu membawa si pemuda masuk. Tak lama kemudian, si gadis menghidangkan berbagai macam buah-buahan untuk si pemuda. Karena ular besar dan burung itu terus memperhatikan si pemuda maka ia menjadi kebingungan.

Melihat hal itu si gadis lalu menjelaskan kepada si pemuda bahwa ular besar itu adalah ibunya, dan burung yang berwarna-warni bulunya itu adalah ayahnya. Selanjutnya, dijelaskan pula oleh si gadis bahwa ayahnya yang berupa burung itu memang sengaja memancing perhatian si pemuda agar mengejarnya sampai ke tempat si gadis. Mendengar penjelasan gadis itu, si pemuda bertanya mengapa ayahnya yang berupa burung itu berbuat demikian.

Si gadis menjelaskan bahwa kedua orang tuanya ingin agar ia kawin dengan si pemuda. Mendengar hal itu si pemuda sangat terkejut, kemudian si gadis bertanya apakah si pemuda bersedia memenuhi keinginan kedua orang tuanya itu. Si pemuda mengatakan bahwa ia bersedia.

Setelah pemuda yang bermarga Purba itu mengawini si gadis, kedua orang tua istrinya lalu menganjurkan mereka agar pergi mencari dan menetap di perkampungan manusia. Tak lama kemudian pergilah mereka mencari perkampungan.

Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya sampailah mereka ke satu kampung yang bernama Kaban. Kampung itu dihuni orang Karo bermarga Sinukaban dan Ketaren. Orang-orang di kampung itu menerima keduanya dengan suka rela dan menganjurkan mereka agar menemui kepala kampung untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka.

Setelah mereka bertemu dengan kepala kampung, mereka kemudian mohon izin agar diperkenankan mendirikan rumah di perkampungan tersebut. Mendengar permohonan itu, kepala kampung menyetujui dan menganjurkan agar mereka mendirikan rumah ke arah hilir kampung Kaban. Dalam bahasa Karo arah hilir disebut “njahe”. Sesuai dengan anjuran kepala kampung itu, pergilah mereka mendirikan rumah di njahe atau di arah hilir kampung Kaban.

Setelah mereka mendirikan rumah dan menetap di sana, lama kelamaan tempat itu berkembang menjadi kampung yang bernama Kaban Jahe. Mereka kemudian memperoleh enam anak lelaki (dilaki) dan satu anak perempuan (diberu).

Keenam putranya itu disebut Purba Si Enam, dari merekalah berkembang marga Purba di Tanah Karo yang kemudian menggabungkan diri ke dalam marga Karo-Karo. Dari keturunan marga Purba yang beristerikan ular ini kemudian melahirkan marga Sekali, Sinuraya, Sinuhaji, Jong, Sikemit, Samura, dan Bukit.

Sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa. Sinuraya dan Sinuhaji mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat yakni Aji Jahe, Aji Mbelang, dan Ujung Aji. Jong dan Kemit mendirikan kampung Mulawari. Adapun marga Samura mendirikan kampung Samura dan Bukit mendirikan kampung Bukit.

Hingga kini mereka yang tergolong sebagai marga Purba tidak boleh mengganggu atau membunuh ular, karena mereka sangat percaya bahwa nenek moyang mereka yang perempuan adalah keturunan ular.

Diposting oleh samuelfajarhotmangaratua.siahaan Jumat, 28 Oktober 2011 4 komentar


Asal Mulani Marga

  1. Si Raja Batak

1.1. Guru Tatea Bulan

1.1.1. Raja Uti

1.1.2. Tuan Sariburaja

1.1.2.1. Raja Borbor

1.1.2.1.1. Tuan Balasahunu

1.1.2.1.1.1. Datu Taladibabana

1.1.2.1.1.1.1. Datu Rimbang Saudara

1.1.2.1.1.1.1.1. Datu Pompang Balasaribu

1.1.2.1.1.1.1.1.1. Raja Tanjung Dolok (Tanjung dkk.)

1.1.2.1.1.1.1.1.2. Isang Maima

1.1.2.1.1.1.1.1.2.1. Datu Pulungan (Pulungan dkk.)

1.1.2.1.1.1.1.1.2.2. Raja Lubis (Lubis dkk.)

1.1.2.1.1.1.1.1.3. Datu Marhandung Dalu

1.1.2.1.1.1.1.1.3.1. Tuan Sariburaja III (Pasaribu)

1.1.2.1.1.1.1.1.3.2. Datu Bara (Datubara dkk.)

1.1.2.1.1.1.1.1.3.3. Raja Matondang (Matondang dkk.)

1.1.2.1.1.1.1.1.3.4. Raja Tarihoran (Tarihoran dkk.)

1.1.2.1.1.1.1.1.3.5. Raja Parapat (Parapat dkk.)

1.1.2.1.1.1.1.1.3.6. Raja Saruksuk (Saruksuk dkk.)

1.1.2.1.1.1.1.1.4. Raja Dohang

1.1.2.1.1.1.2. Raja Sipahutar (Sipahutar dkk.)

1.1.2.1.1.1.3. Siaji Malim (Harahap dkk.)

1.1.2.1.1.1.4. Rambe Raja (Rambe dkk.)

1.1.2.1.1.2. Datu Altong

1.1.2.1.1.3. Ompu Sahang Mataniari (Simargolang dkk.)

1.1.2.1.1.4. Ompu Sindar Matanibulan

1.1.2.1.2. Tuan Sidamanik (Damanik dkk.)

1.1.2.2. Raja Lontung

1.1.2.2.1. Tuan Situmorang (Situmorang dkk.)

1.1.2.2.2. Toga Sinaga (Sinaga dkk.)

1.1.2.2.3. Toga Pandiangan (Pandiangan dkk.)

1.1.2.2.4. Toga Nainggolan (Nainggolan dkk.)

1.1.2.2.5. Toga Simatupang (Simatupang dkk.)

1.1.2.2.6. Toga Aritonang (Aritonang dkk.)

1.1.2.2.7. Toga Siregar (Siregar dkk.)

1.1.2.3. Raja Galeman

1.1.2.3.1. Rangkuti (Rangkuti dkk.)

1.1.3. Limbong Mulana (Limbong dkk.)

1.1.4. Sagala Raja (Sagala dkk.)

1.1.5. Silau Raja

1.1.5.1. Malau Raja (Malau dkk.)

1.1.5.2. Manik Raja (Manik dkk.)

1.1.5.3. Ambarita (Ambarita dkk.)

1.1.5.4. Gurning (Gurning dkk.)

1.2. Raja Isombaon

1.2.1. Tuan Sorimangaraja

1.2.1.1. Tuan Sorba Dijulu

1.2.1.1.1. Simbolon Tua (Simbolon dkk.)

1.2.1.1.2. Tamba Tua (Tamba dkk.)

1.2.1.1.3. Saragi Tua (Saragi dkk.)

1.2.1.1.4. Munte Tua (Munte dkk.)

1.2.1.1.5. Nahampun Tua (Nahampun dkk.)

1.2.1.2. Tuan Sorba Dijae

1.2.1.2.1. Sirasaon

1.2.1.2.1.1. Raja Mangarerak

1.2.1.2.1.1.1. Toga Manurung (Manurung dkk.)

1.2.1.2.1.2. Raja Mangatur

1.2.1.2.1.2.1. Raja Sitorus (Sitorus dkk.)

1.2.1.2.1.2.2. Toga Sirait (Sirait dkk.)

1.2.1.2.1.2.3. Toga Butarbutar (Butarbutar dkk.)

1.2.1.3. Tuan Sorbadibanua

1.2.1.3.1. Raja Si Bagot Ni Pohan

1.2.1.3.1.1. Tuan Sihubil

1.2.1.3.1.1.1. Tampuk Bolon (Tampubolon dkk.)

1.2.1.3.1.2. Tuan Somanimbil

1.2.1.3.1.2.1. Raja Siahaan (Siahaan dkk.)

1.2.1.3.1.2.2. Raja Marsundung (Simanjuntak dkk.)

1.2.1.3.1.2.3. Tuan Maruji (Hutagaol dkk.)

1.2.1.3.1.3. Tuan Dibangarna

1.2.1.3.1.3.1. Raja Panjaitan (Panjaitan dkk.)

1.2.1.3.1.3.2. Raja Silitonga (Silitonga dkk.)

1.2.1.3.1.3.3. Raja Siagian (Siagian dkk.)

1.2.1.3.1.3.4. Raja Sianipar (Sianipar dkk.)

1.2.1.3.1.4. Raja Sonak Malela

1.2.1.3.1.4.1. Raja Simangunsong (Simangunsong dkk.)

1.2.1.3.1.4.2. Raja Marpaung (Marpaung dkk.)

1.2.1.3.1.4.3. Raja Napitupulu (Napitupulu dkk.)

1.2.1.3.2. Raja Si Paet Tua

1.2.1.3.2.1. Pangulu Ponggok

1.2.1.3.2.1.1. Raja Hutahean (Hutahean dkk.)

1.2.1.3.2.1.2. Ompu Raja Aruan (Aruan dkk.)

1.2.1.3.2.1.3. Raja Hutajulu (Hutajulu dkk.)

1.2.1.3.2.2. Partano

1.2.1.3.2.2.1. Raja Sibarani (Sibarani dkk.)

1.2.1.3.2.2.2. Sibuea (Sibuea dkk.)

1.2.1.3.2.3. Pardungdang

1.2.1.3.2.3.1. Ompu Raja Laguboti (Pangaribuan dkk.)

1.2.1.3.2.3.2. Ompu Raja Hutapea (Hutapea Laguboti dkk.)

1.2.1.3.3. Raja Si Lahi Sabungan

1.2.1.3.3.1. Silahi Raja (Silalahi dkk.)

1.2.1.3.3.2. Loho Raja (Sihaloho dkk.)

1.2.1.3.3.3. Tungkir Raja (Situngkir dkk.)

1.2.1.3.3.4. Sondi Raja (Rumasondi dkk.)

1.2.1.3.3.5. Butar Raja (Sidabutar dkk.)

1.2.1.3.3.6. Bariba Raja (Sidabariba dkk.)

1.2.1.3.3.7. Debang Raja (Sidebang dkk.)

1.2.1.3.3.8. Batu Raja (Pintubatu dkk.)

1.2.1.3.3.9. Tambun Raja (Tambun dkk.)

1.2.1.3.3.10. Raja Sembiring (Sembiring dkk.)

1.2.1.3.3.11. Mahabilang

1.2.1.3.3.11.1. Maha (Maha dkk.)

1.2.1.3.3.11.2. Sambo (Sambo dkk.)

1.2.1.3.3.11.3. Pardosi (Pardosi dkk.)

1.2.1.3.4. Raja Oloan

1.2.1.3.4.1. Raja Naibaho (Naibaho dkk.)

1.2.1.3.4.2. Raja Sihotang (Sihotang dkk.)

1.2.1.3.4.3. Toga Bakkara (Bakkara dkk.)

1.2.1.3.4.4. Toga Sinambela (Sinambela dkk.)

1.2.1.3.4.5. Toga Sihite (Sihite dkk.)

1.2.1.3.4.6. Toga Manullang (Manullang dkk.)

1.2.1.3.5. Raja Huta Lima

1.2.1.3.6. Raja Sumba

1.2.1.3.6.1. Toga Simamora (Simamora dkk.)

1.2.1.3.6.2. Toga Sihombing (Sihombing dkk.)

1.2.1.3.7. Raja Sobu

1.2.1.3.1.1. Raja Sitompul (Sitompul dkk.)

1.2.1.3.1.2. Raja Hasibuan (Hasibuan dkk.)

1.2.1.3.8. Toga Naipospos (Naipospos dkk.)

1.2.2. Raja Asiasi

1.2.3. Sangkar Somalindang

1.3. Toga Laut

Diposting oleh samuelfajarhotmangaratua.siahaan Sabtu, 13 Agustus 2011 0 komentar


Marga-Marga Mandailing


Mandailing adalah salah satu Puak Batak bertempat tinggal di pendalaman pesisir pantai Barat Pulau Sumatera. Termasuk Puak Batak karena menggunakan bahasa yang hampir mirip dengan bahasa Batak Toba dan Batak Angkola, serta Batak Simalungun. Begitu pula dengan adat istiadatnya yang Patrilinealistik. Juga menggunakan marga yang diturunkan secara turun temurun. Sebagian besar dari marga-marga tersebut terdapat pula di belahan Toba, Angkola, Simalungun. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa tentulah di masa yang lalu terdapat hubungan kekerabatan yang terlupakan oleh sejarah tertulis.

Dalam sejarahnya masyarakat Mandailing hidup dengan sistem pemerintahan tradisional, tradisi persawahan, pengembalaan kerbau, pelombongan/penambangan mas, persenjataan, dan perairan.

Kaya dengan mitologi asal-usul marga, Mandailing tercatat dalam kitab Nagarakertagama pada abad ke 14 M, namun sulit mendapatkan catatan sejarah mengenai mereka.

Tanah Mandailing dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Mandailing Godang
2. Mandailing Julu.

Masyarakat Mandailing diatur dengan menggunakan sistem sosial Dalian na Tolu (Tumpuan Yang Tiga) - merujuk kepada aturan kekerabatan marga - yang diikat meneruskan perkawinan dan prinsip Olong Dohot Domu (Kasih Sayang dan Keakraban).

Sistem pemerintahan Mandailing bersifat demokratis dan egalitar. Lembaga pemerintahan Na Mora Na Toras (Yang Dimuliakan dan Dituakan) memastikan keadilan dan kepemimpinan yang dinamis.
Gordang Sambilan adalah gendang adat yang terdiri dari sembilan buah gendang yang relatif besar dan panjang, dan digunakan dalam ucapcara perkawinan, penabalan dan kematian.
Sabe-Sabe selendang istiadat dipakai untuk upacara adat dan untuk tarian adat yang disebut Tor-Tor.


MARGA-MARGA MANDAILING

Ada yang memperkirakan bahwa di Mandailing terdapat 13 marga. Marga-marga itu ialah :

1. Hasibuan
2. Dalimunte
3. Mardia
4. Pulungan
5. Lubis
6. Nasution
7. Rangkuti
8. Parinduri
9. Daulae
10. Matondang
11. Batu Bara
12. Tanjung
13. Lintang

Lumrahnya setiap marga mempunyai nenek moyang yang sama. Tetapi ada juga sejumlah marga yang berlainan nama tetapi mempunyai nenek moyang yang sama. Misalnya, marga Rangkuti dan Parinduri; Pulungan, Lubis dan Harahap; Daulae, Matondang serta Batu Bara. Melalui tarombo atau silsilah keturunan dapat diketahui nenek moyang bersama sesuatu marga. Dan dari jumlah generasi yang tertera dalam tarombo dapat pula diperhitungkan berapa usia suatu marga atau sudah berapa lama suatu marga tinggal di Mandailing.

Dari banyak marga tersebut, terdapat dua marga besar yang berkuasa, yang masing-masing menduduki sebuah wilayah luas yang bulat. Marga-marga penguasa itu adalah :
- Nasution di Mandailing Godang,
- Lubis di Mandailing Julu.


Menurut Abdoellah Loebis, marga-marga di Mandailing dibedakannya berdasarkan wilayah Tanah Mandailing.
1. Mandailing Julu dan Pakantan adalah seperti berikut:
- Lubis (yang terbahagi kepada Lubis Huta Nopan dan Lubis Singa Soro),
- Nasution,
- Parinduri,
- Batubara,
- Matondang,
- Daulay,
- Nai Monte,
- Hasibuan,
- Pulungan.

2. Marga-marga di Mandailing Godang pula adalah:
- Nasution yang terbagi atas Nasution Panyabungan, Tambangan, Borotan, Lantat, Jior, Tonga, Dolok, Maga, Pidoli, dan lain-lain.
- Lubis,
- Hasibuan,
- Harahap,
- Batu Bara,
- Matondang (keturunan Hasibuan),
- Rangkuti,
- Mardia,
- Parinduri,
- Batu na Bolon,
- Pulungan,
- Rambe,
- Mangintir,
- Nai Monte,
- Panggabean,
- Tangga Ambeng,
- Margara.

(Rangkuti, Mardia, dan Parinduri asalnya dari satu marga)


Menurut Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan,
a. Marga-marga yang banyak terdapat di Angkola dan Sipirok adalah :
- Pulungan,
- Baumi,
- Harahap,
- Siregar,
- Dalimunte,
- Daulay.

b. Di Padang Lawas juga terdapat marga-marga :
- Harahap,
- Siregar,
- Hasibuan,
- Daulay,
- Dalimunte,
- Pulungan,
- Nasution,
- Lubis.

Diposting oleh samuelfajarhotmangaratua.siahaan Sabtu, 06 Maret 2010 0 komentar


Marga-Marga Karo

Marga Karo terdapat lima kelompok suku Karo, yaitu: Karokaro, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin. Klan (nama keluarga) dalam suku bangsa Karo disebut merga berbeda halnya dengan suku bangsa Batak (Silindung-Samosir-Humbang-Toba) yang disebut dengan marga.
Cabang-cabang merga suku Karo dan persebarannya.
A. Merga Karokaro dan cabang-cabangnya
1. Karokaro Sinulingga di Lingga, Bintang Meriah, dan Gunung Merlawan.
2. Karokaro Surbakti di Surbakti dan Gajah.
3. Karokaro Kacaribu di Kutagerat dan Kerapat
4. Karokaro Sinukaban di Kaban dan Sumbul.
5. Karokaro Barus di Barus Jahe, Pitu Kuta.
6. Karokaro Simbulan di Bulanjulu dan Bulanjahe.
7. Karokaro Jung di Kutanangka, Kalang, Perbesi, dan Batukarang.
8. Karokaro Purba di Kabanjahe, Berastagi, dan Lau Cih (Deli Hulu).
9. Karokaro Ketaren di Raya, Ketaren Sibolangit, dan Pertampilen.
10. Karokaro Gurusinga di Gurusinga dan Rajaberneh.
11. Karokaro Kaban di Pernantin, Kabantua, Bintang Meriah, Buluh Naman, dan L. Lingga.
12. Karokaro Sinuhaji di Ajisiempat.
13. Karokaro Sekali di Seberaya.
14. Karokaro Kemit di Kuta Bale.
15. Karokaro Bukit di Bukit dan Buluh Awar.
16. Karokaro Sinuraya di Bunuraya, Singgamanik, dan Kandibata.
17. Karokaro Samura di Samura.
18. Karokaro Sitepu di Naman dan Sukanalu
B. Merga Ginting dan cabang-cabangnya
1. Ginting Munte di Kutabangun, Ajinembah, Kubu, Dokan, Tanggung, Munte, Rajatengah, dan Bulan Jahe.
2. Ginting Babo di Gurubenua, Munte, dan Kutagerat.
3. Ginting Sugihen di Sugihen, Juhar, dan Kutagunung.
4. Ginting Gurupatih di Buluh Naman, Sarimunte, Naga, dan Lau Kapur.
5. Ginting Ajartambun di Rajamerahe.
6. Ginting Capah di Bukit dan Kalang.
7. Ginting Beras di Laupetundal.
8. Ginting Garamata di (Simarmata) Raja Tengah, Tengging.
9. Ginting Jadibata di Juhar.
10. Ginting Suka Ajartambun di Rajamerahe.
11. Ginting Manik di Tengging dan Lingga.
12. Ginting Sinusinga di Singa.
13. Ginting Jawak di Cingkes (?)
14. Ginting Seragih di Lingga Julu.
15. Ginting Tumangger di Kidupen dan Kemkem.
16. Ginting Pase di …. (lenyap?)
C. Merga Tarigan dan Cabang-cabangnya
1. Tarigan Sibero di Juhar, Kutaraja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringin, Selakar, dan Lingga.
2. Tarigan Tambak di Kebayaken dan Sukanalu.
3. Tarigan Silangit di Gunung Meriah.
4. Tarigan Tua di Pergendangen, Talimbaru.
5. Tarigan Tegur di Suka.
6. Tarigan Gersang di Nagasaribu dan Berastepu.
7. Tarigan Gerneng di Cingkes (Simalungun).
8. Tarigan Gana-gana di Batukarang.
9. Tarigan Jampang di Pergendangen.
10. Tarigan Tambun di Rakutbesi, Binangara, Sinaman dll.
11. Tarigan Bondong di Lingga.
12. Tarigan Pekan (Cabang dari Tambak) di Sukanalu
13. Tarigan Purba di Purba (Simalungun)
D. Merga Sembiring dan Cabang-cabangnya
I. Sembiring Siman biang (Tidak biasa kawin campur darah dengan cabang Sembiring lainnya, artinya: tidak diperbolehkan perkawinan dengan sesama merga Sembiring).
1. Sembiring Kembaren di Samperaya dan hampir di seluruh urung Liang Melas.
2. Sembiring Sinulaki di Silalahi.
3. Sembiring Keloko di Pergendangen.
4. Sembiring Sinupayung di Juma Raja dan Negeri
II. Sembiring Simantangken biang (ada dilakukan perkawinan antara cabang merga Sembiring)
1. Sembiring Colia di Kubucolia dan Seberaya.
2. Sembiring Pandia di Seberaya, Payung, dan Beganding.
3. Sembiring Gurukinayan di Gurukinayan.
4. Sembiring Berahmana di Kabanjahe, Perbesi, dan Limang.
5. Sembiring Meliala di Sarinembah, Munte Rajaberneh, Kedupen, Kabanjahe, Naman, Berastepu, dan Biaknampe.
6. Sembiring Pande Bayang di Buluh Naman dan Gurusinga.
7. Sembiring Tekang di Kaban.
8. Sembiring Muham di Susuk dan Perbesi.
9. Sembiring Depari di Seberaya, Perbesi, dan Munte.
10. Sembiring Pelawi di Ajijahe, Perbaji, Kandibata, dan Hamparan Perak (Deli).
11. Sembiring Busuk di Kidupen dan Lau Perimbon.
12. Sembiring Sinukapar di Pertumbuken, Sidikalang(?) Sarintono.
13. Sembiring Keling di Juhar dan Rajatengah.
14. Sembiring Bunuh Aji di Sukatepu, Kutatonggal, dan Beganding
E. Merga Peranginangin dan cabang-cabangnya
1. Peranginangin Namohaji di Kutabuluh.
2. Peranginangin Sukatendel di Sukatendel.
3. Peranginangin Mano di Pergendangen.
4. Peranginangin Sebayang di Perbesi, Kuala, gunung dan Kuta Gerat.
5. Peranginangin Pencawan di Perbesi.
6. Peranginangin Sinurat di Kerenda.
7. Peranginangin Perbesi di Seberaya.
8. Peranginangin Ulunjandi di Juhar.
9. Peranginangin Penggarus di Susuk.
10. Peranginangin Pinem di Serintono (Sidikalang).
11. Peranginangin Uwir di Singgamanik.
12. Peranginangin Laksa di Juhar.
13. Peranginangin Singarimbun di Mardinding , Kutambaru dan Temburun.
14. Peranginangin Keliat di Mardinding.
15. Peranginangin Kacinambun di Kacinambun.
16. Peranginangin Bangun di Batukarang.
17. Peranginangin Tanjung di Penampen dan Berastepu.
18. Peranginangin Benjerang di Batukarang
Sebagian dari marga Peranginangin dan Sembiring dapat kawin sesamanya (antar cabang merga).
Ada pula merga yang melakukan Sejandi yaitu perjanjian tidak saling mengambil atau tidak mengadakan perkawinan antar merga bersangkutan, misalnya : antara Sembiring Tekang dengan Karokaro Sinulingga dan antara Karokaro Sitepu dengan Peranginangin Sebayang.

oleh: wikipedia.com

Diposting oleh samuelfajarhotmangaratua.siahaan 2 komentar


Asal – Usul Marga Batak

Filed Under: Adat Istiadat

Indonesia mempunyai beragam suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya adalah suku Batak yang bermukim di Pulau Sumatra. Pulau Sumatra ini mempunyai luas 71.680 km². Dan beribukota di Medan. Pulau Sumatra berbatasan dengan Provinsi DI Aceh dan selat Malaka, timur Selat Malaka, selatan Provinsi Sumatra Barat dan Riau, barat Samudera Indonesia.

Kebanyakkan suku Batak tinggal di Kota Medan, karena Medan merupakan kota terbesar di Pulau Sumatra dengan penduduk 2,3 juta jiwa.

Sejarah Suku Batak

Orang Batak selalu dikenal dengan marganya. Marga ini merupakan simbol bagi keluarga Batak. Karena marga diperoleh dari garis keturunan ayah, yang akan terus-menerus diturunkan kepada penerusnya.

Asal – Usul Marga

Menurut kepercayaan bangsa Batak, induk marga Batak dimulai dari Si Raja Batak yang diyakini sebagai asal mula orang Batak. Si Raja Batak mempunyai 2 (dua) orang putra yakni Guru Tatea Bulan dan Si Raja Isumbaon. Guru Tatea mempunyai istri bernama Si Boru Baso Burning dan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri.

  • Putra :
  1. Si Raja Biak-Biak.
  2. Tuan SaribuRaja.
  3. Limbong Mulana.
  4. Sagala Raja.
  5. Malau Raja.
  • Putri :
  1. Si Boru Pareme, kawin dengan Tuan SaribuRaja.
  2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan SorimangaRaja, putra Raja Isumbaon.
  3. Si Boru Biding Laut, juga kawin dengan Tuan SorimangaRaja.
  4. Si Boru Nan Tinjo, tidak kawin.

Sementara itu Si Raja Isumbaon mempunyai 3 (tiga) orang putra yaitu, Tuan SorimangaRaja, Si Raja Asiasi, dan Sangkar Somalindang.

1. SaribuRaja dan Marga-marga Keturunannya

SaribuRaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marpohas (anak kembar berlainan jenis).

Mula-mula SaribuRaja kawin dengan Nai Margiring Laut, dan melahirkan seorang putra yang bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Si Boru Pareme menggoda abangnya SaribuRaja, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest. Karena saudara-saudara yang lainnya tidak suka, maka SaribuRaja pergi mengembara ke hutan dengan meninggalkan Si Boru Pareme dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme akan melahirkan, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara. Di sana dia bertemu dengan SaribuRaja yang sudah mempunyai “istri” seekor harimau betina.

Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang bernama Si Raja Lontung. Dari istrinya sang harimau, SaribuRaja memperoleh putra yang bernama Si Raja Babiat. di kemudian hari Si Raja Babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga BayoAngin.

A. Si Raja Lontung

Putra pertama dari Tuan SaribuRaja ini mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu :

  • Putra :
  1. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
  2. Sinaga Raja, keturunannya bermarga Sinaga.
  3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
  4. Toga Nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
  5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
  6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
  7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.
  • Putri :
  1. Si Boru AnakPandan, kawin dengan Toga Sihombing.
  2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.

Dari keturunan SITUMORANG, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, SuhutNihuta, SiringoRingo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.

Dari keturunan SINAGA, lahir marga-marga cabang Simankorang, Simandalahi, Barutu.

Dari keturunan PANDIANGAN, lahir marga-marga cabang Samosir, Gultom, PakPahan, Sidari, Sitinjak, Harianja.

Dari keturunan NAINGGOLAN, lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Bautbara, Lumabn Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.

Dari keturunan SIMATUPANG lahir marga-marga cabang Togatorop (SiTogatorop), Sianturi, Siburian.

Dari keturunan ARITONANG, lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, RajaGukguk. Simaremare.

Dari keturunan SIREGAR, lahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.

B. Si Raja Borbor

Putra kedua dari Tuan SaribuRaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut marga BORBOR.

Cucu RAJA BORBOR yang bernama DATU TALADIBABANA (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :

1. Datu Dalu (Sahangmaima).

2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.

3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.

4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.

5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.

6. Simargolang, keturunannya bermarga Simargolang.

Keturunan DATU DALU melahirkan marga-marga berikut :

a. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.

b. Tinendang, Tangkar.

c. Matondang.

d. Saruksuk.

e. Tarihoran.

f. Parapat.

g. RANGKUTI.

Keturunan DATU PULUNGAN melahirkan marga-marga LUBIS dan HUTASUHUT.

2. LIMBONG MULANA dan Marga-marga Keturunannya

Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong. Dia mempunyai 2 orang putra, yaitu PALU ONGGANG dan LANGGAT LIMBONG. Putra dari LANGGAT LIMBONG ada 3 orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga SIHOLE dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga HABEAHAN. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu LIMBONG.

3. SAGALA RAJA

Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga SAGALA.

4. LAU RAJA dan Marga-marga Keturunannya

LAU RAJA adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga MALAU. Dia mempunyai 4 orang putra, yaitu :

a. Pase Raja, keturunannya bermarga Pase

b. Ambarita, keturunannya bermarga Ambarita.

c. Gurning, keturunannya bermarga Gurning.

d. Lambe RajaA, keturunannya bermarga Lambe.

Salah seorang keturunan LAU RAJA diberi nama MANIK RAJA, yang kemudian menjadi asal-usul lahirnya marga MANIK.

Tuan SorimangaRaja dan Marga-marga Keturunannya

Tuan SorimangaRaja adalah putra pertama dari Raja Isumbaon. Dari ketiga putra Raja Isumbaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :

a. Si Boru Anting Malela (NAI RASAON), putri dari Guru Tatea Bulan.

b. Si Boru Biding Laut (NAI AMBATON), juga putri dari Guru Tatea Bulan.

c. Si Boru Sanggul Haomasan (NAI SUANON).

Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (OMPU RAJA NABOLON), gelar NAI AMBATON.

Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Dijae (RAJA MANGARERAK), gelar NAI RASAON.

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar NAI SUANON.

NAI AMBATON (TUAN SORBA DJULU/OMPU RAJA NABOLON)

Nama (gelar) putra sulung TUAN SORIMANGARAJA lahir dari istri pertamanya yang bernama NAI AMBATON. Nama sebenarnya adalah OMPU RAJA NABOLON, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga NAI AMBATON menurut nama ibu leluhurnya.

NAI AMBATON mempunyai 4 orang putra, yaitu :

a. SIMBOLON TUA, keturunannya bermarga SIMBOLON.

b. TAMBA TUA, keturunannya bermarga TAMBA.

c. SARAGI TUA, keturunannya bermarga SARAGI.

d. MUNTE TUA, keturunannya bermarga MUNTE (MUNTE, NAI MUNTE, atau DALIMUNTE).

Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung) :

a. Dari SIMBOLON : TINAMBUNAN, TUMANGGOR, MAHARAJA, TURUTAN, NAHAMPUN, PINAYUNGAN. Juga marga-marga BERAMPU dan PASI.

b. Dari TAMBA : SIALLAGAN, TOMOK, SIDABUTAR, SIJABAT, GUSAR, SIADARI, SIDABOLAK, RUMAHORBO, NAPITU.

c. Dari SARAGI : SIMALANGO, SAING, SIMARMATA, NADEAK, SIDABUNGKE.

d. Dari MUNTE : SITANGGANG, MANIHURUK, SIDAURUK, TURNIP, SITIO, SIGALINGGING.

Keterangan lain mengatakan bahwa NAI AMBATON mempunyai 2 orang putra, yaitu SIMBOLON TUA dan SIGALINGGING. SIMBOLON TUA mempunyai 5 orang putra, yaitu SIMBOLON, TAMBA, SARAGI, MUNTE, dan NAHAMPUN.

Walaupun keturunan NAI AMBATON sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan NAI AMBATON.

Catatan mengenai OMPU BADA, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung, OMPU BADA tersebut adalah keturunan NAI AMBATON pada sundut kesepuluh.

Menurut keterangan dari salah seorang keturunan OMPU BADA (MPU BADA) bermarga GAJAH, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut :

a. MPU BADA ialah asal-usul dari marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, dan BARASA.

b. Keenam marga tersebut dinamai SIENEMKODIN (Enem = enam, Kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan MPU BADA pun dinamai SIENEMKODIN.

c. MPU BADA bukan keturunan NAI AMBATON, juga bukan keturunan SI RAJA BATAK dari Pusuk Buhit.

d. Lama sebelum SI RAJA BATAK bermukim di Pusuk Buhit, OMPU BADA telah ada di tanah Dairi. Keturunan MPU BADA merupakan ahli-ahli yang trampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.

e. Keturunan MPU BADA menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah Dairi dan Tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)

Nama (gelar) putra kedua dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri kedua TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI RASAON. Nama sebenarnya ialah RAJA MANGARERAK, tetapi hingga sekarang semua keturunan RAJA MANGARERAK lebih sering dinamai orang NAI RASAON.

RAJA MANGARERAK mempunyai 2 orang putra, yaitu RAJA MARDOPANG dan RAJA MANGATUR. Ada 4 marga pokok dari keturunan RAJA MANGARERAK :

a. Dari RAJA MARDOPANG, menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga SITORUS, SIRAIT, dan BUTAR BUTAR.

b. Dari RAJA MANGATUR, menurut nama putranya, TOGA MANURUNG, lahir marga MANURUNG.

Marga PANE adalah marga cabang dari SITORUS.

NAI SUANON (TUAN SORBADIBANUA)

Nama (gelar) putra ketiga dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri ketiga TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI SUANON. Nama sebenarnya ialah TUAN SORBADIBANUA, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai TUAN SORBADIBANUA.

TUAN SORBADIBANUA mempunyai 2 orang istri dan memperoleh 8 orang putra.

Dari istri pertama (putri SARIBURAJA) :

a. SI BAGOT NI POHAN, keturunannya bermarga POHAN.

b. SI PAET TUA.

c. SI LAHI SABUNGAN, keturunannya bermarga SILALAHI.

d. SI RAJA OLOAN.

e. SI RAJA HUTA LIMA.

Dari istri kedua (BORU SIBASOPAET, putri Mojopahit) :

a. SI RAJA SUMBA.

b. SI RAJA SOBU.

c. TOGA NAIPOSPOS, keturunannya bermarga NAIPOSPOS.

Keluarga TUAN SORBADIBANUA bermukim di Lobu Parserahan – Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, TUAN SORBADIBANUA menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata SI RAJA HUTA LIMA terkena oleh lembing SI RAJA SOBU. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh TUAN SORBADIBANUA. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang 3 orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki gunung Dolok Tolong sebelah barat.

Keturunana TUAN SORBADIBANUA berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.

Keturunan SI BAGOT NI POHAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :

a. TAMPUBOLON, BARIMBING, SILAEN.

b. SIAHAAN, SIMANJUNTAK, HUTAGAOL, NASUTION.

c. PANJAITAN, SIAGIAN, SILITONGA, SIANIPAR, PARDOSI.

d. SIMANGUNSONG, MARPAUNG, NAPITUPULU, PARDEDE.

Keturunan SI PAET TUA melahirkan marga dan marga cabang berikut :

a. HUTAHAEAN, HUTAJULU, ARUAN.

b. SIBARANI, SIBUEA, SARUMPAET.

c. PANGARIBUAN, HUTAPEA.

Keturunan SI LAHI SABUNGAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :

a. SIHALOHO.

b. SITUNGKIR, SIPANGKAR, SIPAYUNG.

c. SIRUMASONDI, RUMASINGAP, DEPARI.

d. SIDABUTAR.

e. SIDABARIBA, SOLIA.

f. SIDEBANG, BOLIALA.

g. PINTUBATU, SIGIRO.

h. TAMBUN (TAMBUNAN), DOLOKSARIBU, SINURAT, NAIBORHU, NADAPDAP, PAGARAJI, SUNGE, BARUARA, LUMBAN PEA, LUMBAN GAOL.

Keturunan SI RAJA OLOAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :

a. NAIBAHO, UJUNG, BINTANG, MANIK, ANGKAT, HUTADIRI, SINAMO, CAPA.

b. SIHOTANG, HASUGIAN, MATANIARI, LINGGA, MANIK.

c. BANGKARA.

d. SINAMBELA, DAIRI.

e. SIHITE, SILEANG.

f. SIMANULLANG.

Keturunan SI RAJA HUTA LIMA melahirkan marga dan marga cabang berikut :

a. MAHA.

b. SAMBO.

c. PARDOSI, SEMBIRING MELIALA.

Keturunan SI RAJA SUMBA melahirkan marga dan marga cabang berikut :

a. SIMAMORA, RAMBE, PURBA, MANALU, DEBATARAJA, GIRSANG, TAMBAK, SIBORO.

b. SIHOMBING, SILABAN, LUMBAN TORUAN, NABABAN, HUTASOIT, SITINDAON, BINJORI.

Keturunan SI RAJA SOBU melahirkan marga dan marga cabang berikut :

a. SITOMPUL.

b. HASIBUAN, HUTABARAT, PANGGABEAN, HUTAGALUNG, HUTATORUAN, SIMORANGKIR, HUTAPEA, LUMBAN TOBING, MISMIS.

Keturunan TOGA NAIPOSPOS melahirkan marga dan marga cabang berikut :

a. MARBUN, LUMBAN BATU, BANJARNAHOR, LUMBAN GAOL, MEHA, MUNGKUR, SARAAN.

b. SIBAGARIANG, HUTAURUK, SIMANUNGKALIT, SITUMEANG.

***

DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)

Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut :

“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;

Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”

artinya :

“Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput;

Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”

Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah :

a. MARBUN dengan SIHOTANG.

b. PANJAITAN dengan MANULLANG.

c. TAMPUBOLON dengan SITOMPUL.

d. SITORUS dengan HUTAJULU – HUTAHAEAN – ARUAN.

e. NAHAMPUN dengan SITUMORANG.

CATATAN TAMBAHAN

1. Selain PANE, marga-marga cabang lainnya dari SITORUS adalah BOLTOK dan DORI.

2. Marga-marga PANJAITAN, SILITONGA, SIANIPAR, SIAGIAN, dan PARDOSI tergabung dalan suatu punguan (perkumpulan) yang bernama TUAN DIBANGARNA. Menurut yang saya ketahui, dahulu antar seluruh marga TUAN DIBANGARNA ini tidak boleh saling kawin. Tetapi entah kapan ada perjanjian khusus antara marga SIAGIAN dan PANJAITAN, bahwa sejak saat itu antar mereka (kedua marga itu) boleh saling kawin.

3. Marga SIMORANGKIR adalah salah satu marga cabang dari PANGGABEAN. Marga-marga cabang lainnya adalah LUMBAN RATUS dan LUMBAN SIAGIAN.

4. Marga PANJAITAN selain mempunyai ikatan janji (padan) dengan marga SIMANULLANG, juga dengan marga-marga SINAMBELA dan SIBUEA.

5. Marga SIMANJUNTAK terbagi 2, yaitu HORBOJOLO dan HORBOPUDI. Hubungan antara kedua marga cabang ini tidaklah harmonis alias bermusuhan selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang. (mereka yang masih bermusuhan sering dikecam oleh batak lainnya dan dianggap batak bodoh)

6. TAMPUBOLON mempunyai putra-putra yang bernama BARIMBING, SILAEN, dan si kembar LUMBAN ATAS & SIBULELE. Nama-nama dari mereka tersebut menjadi nama-nama marga cabang dari TAMPUBOLON (sebagaimana biasanya cara pemberian nama marga cabang pada marga-marga lainnya).

7. Pada umumnya, jika seorang mengatakan bahwa dia bermarga SIAGIAN, maka itu adalah SIAGIAN yang termasuk TUAN DIBANGARNA, bukan SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari SIREGAR ataupun LUMBAN SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari PANGGABEAN.

8. Marga SIREGAR, selain terdapat di suku Batak Toba, juga terdapat di suku Batak Angkola (Mandailing). Yang di Batak Toba biasa disebut “Siregar Utara” sedangkan yang di Batak Angkola (Mandailing) biasa disebut “Siregar Selatan”.

9. Marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, BARASA, NAHAMPUN, TUMANGGOR, ANGKAT, BINTANG, TINAMBUNAN, TINENDANG, BARUTU, HUTADIRI, MATANIARI, PADANG, SIHOTANG, dan SOLIN juga terdapat di suku Batak Pakpak (Dairi).

10. Di suku Batak Pakpak (Dairi) :

a. BUNUREA disebut juga BANUREA.

b. TUMANGGOR disebut juga TUMANGGER.

c. BARUTU disebut juga BERUTU.

d. HUTADIRI disebut juga KUDADIRI.

e. MATANIARI disebut juga MATAHARI.

f. SIHOTANG disebut juga SIKETANG.

11. Marga SEMBIRING MELIALA juga terdapat di suku Batak Karo. SEMBIRING adalah marga induknya, sedangkan MELIALA adalah salah satu marga cabangnya.

12. Marga DEPARI juga terdapat di suku Batak Karo. Marga tersebut juga merupakan salah satu marga cabang dari SEMBIRING.

13. Jangan keliru (bedakan) :
a. SITOHANG dengan SIHOTANG.
b. SIADARI dengan SIDARI.
c. BUTAR BUTAR dengan SIDABUTAR.
d. SARAGI (Batak Toba) dengan SARAGIH (Batak Simalungun).

14. Entah kebetulan atau barangkali memang ada kaitannya, marga LIMBONG juga terdapat di suku Toraja.

15. Marga PURBA juga terdapat di suku Batak Simalungun.



oleh: wartawarga.gunadarma.ac.id

Diposting oleh samuelfajarhotmangaratua.siahaan 4 komentar

Subscribe here

;

Friend's Blog

SMAN 6 BANDUNG

SMAN 6 BANDUNG

TUGU SIAHAAN SOMBA DEBATA NA BOLON

TUGU SIAHAAN SOMBA DEBATA NA BOLON
Tugu Persatuan Siahaan di Balige, Sumatera Utara

Jabu Bolon

Jabu Bolon
Rumah Adat Batak

Gorga

Gorga
Ukiran Khas Batak

World's Clock